Selasa, 28 Juni 2016

Contoh Cerpen

saya bukan perangkai kata-kata, bukan juga puitis, kalau disuruh perkarya pusing yang ada. Ini salah satu tugas Bahasa Indonesia  waktu duduk di kelas XII yang memaksa untuk berkarya . Nyambung gak nyambungnya inilah karya saya yang ala-ala pemaksaan:




SEKEDIP MENTARI YANG TAK TERLUPAKAN
Ditengah puluhan orang dalam sebuah bis antar lintas sumatra (ALS) tujuan Bekasi. Seorang wanita terlihat bosan ditempat duduknya. Dan tampak sedang menunggu hiburan datang menghampirinya, agar ia dapat tersenyum dengan senyumannya yang manis. Tak lain wanita itu adalah aku Chika. Aku berdiri dan berjalan kecil diantara para penumpang berharap rasa bosanku sedikit demi sedikit hilang. Aku melangkah kearah supir bis dan kembali melangkah menuju bangku panjang yang bersebelahan dengan kondektur bis. Aku pun duduk kembali dengan muka yang kurang gairah.
“mbak kenapa ? keliatannya bete bangat ?” tanya seorang pria yang duduk di sampingku
“iya mas aku bosan duduk terus, aku pengen cepat-cepat sampai” jawabku
“emang mbak tujuannya kemana ?” tanya pria itu lagi
“jakarta” jawabku dengan singkat
“masih jauh mbak, mbak yang sabar ya, keep smile!” kata pria itu dengan senyum manis
aku memandang dan memperhatikan pria itu, “pria yang manis, keren, dan putih lagi” kataku dalam hati.
“mbak nama mbak siapa ?” tanya pria itu
“chika”, jawabku dengan kaget
“mbak dari mana mbak”, tanya pria itu lagi
“aku dari kampung ayahku mas, MADINA (Mandailing Natal). Oh iya mas, ngomong-ngomong nama mas siapa? “, tanyaku balik
“hhhmm.. panggil aja Hendri”, sahut pria itu
“Mas tujuannya kemana” tanyaku
“ aku mau ke Jambi mbak” sahut pria itu
Aku dan Hendri terus mengobrol. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi dimana penumpang bis waktunya sarapan. Supir bis memarkirkan bisnya tepat didepan sebuah rumah makan yang begitu besar yaitu tepatnya di Lampung.
***
Setelah semua selesai sarapan , penumpang bersiap untuk melanjutkan perjalanan kembali. Tetapi ada sesuatu yang terjadi. Bis yang aku naiki mengalami kerusakan dan kemungkinan akan selesai diperbaiki pada jam 04.00 sore. Aku bingung dan memandang wajah penumpang yang tak girang yang melukiskan seribu kecewa , seperti aku. Tapi, apa boleh buat ? aku hanya bisa menarik napas dalam-dalam.
Aku diam dan duduk di bangku bis yang belum juga selesai diperbaiki. Memandang dan memperhatikan suasana sekitar rumah makan. Tiba-tiba pandanganku teralihkan, melihat hendri sedang duduk manis di bawah pohon rindang sambil memperhatikan kendaraaan yang melintas
“hei melamun terus “ kataku sambil mengagetkan
“siapa yang melamun ?” jawab hendri
“terus kalau  gak melamun namanya apa mas brow ?” tanyaku balik
“aku hanya bingung harus ngapain, dan  bagaimana kalau nanti bisnya gak selesai-selesai diperbaiki” kata henri dengan muka bingung
“sama mas, tapi bagaimana lagi. Kita berdoanya aja agar bisnya cepat selesai diperbaiki dan kita bisa melanjutkan perjalanan kembali” jawabku
Kami saling bertukar cerita dan sesekali diselingi canda tawa. Kami terlihat sangat akrab seperti yang sudah kenal lama. Sampai ada yang bilang kami adik kakak dan ada juga yang bilang kami pacaran. Aku kaget mendengar pendapat mereka, sampai mukaku merah kaya udang kepanasan.
Di tengah candaan kami terdengar suara musik yang semakin lama semakin mendekat, yang tak lain itu adalah suara musik penjual es krim. Dia berhenti tepat dihapanku dan hendri. Penumpang  menyambutnya dengan riang, mereka membeli es krim untuk menghilangkan rasa bosan mereka yang semakin tinggi.
“chika, kamu mau beli es krim gak?” tanya hendri
“mau tapi gak mau antrinya. Hehe”  jawabku
“ya udah, kita nanti aja belinya, kalau udah gak antri” sahut hendri
“ok “ jawabku
Setelah terlihat sepi dan semua terlihat sibuk dengan es krimnya. Hendri bangun dari tempat duduknya dan membeli es krim tanpa mengajakku. Hendri membeli dua es krim rasa coklat.
“chika, ini buat kamu” kata hendri sambil mengulurkan es krimnya
“makasih hendri.  Aku bayar berapa nih ?” sahutku
“udah makan dulu aja” kata hendri
“ah gak mau ah, berapa dulu?” tanyaku
“udah itu buat kamu aja, gak usah bayar” kata hendri dengan muka manis
“gak bisa gitu downk. Ini ?” kataku sambil mengulurkan uang
Dengan muka ikhlas Hendri tidak mau menerima uangku, malah menyuruhku untuk menikmati es krimnya. Dengan rasa malu tapi mau, aku menyantap dan menikmati kelezatan es krimnya.
* * *
Mentari mulai menghilang, tapi bis belum juga selesai diperbaiki. Semua orang terlihat kesal. Tapi, entah kenapa aku merasa biasa saja, malah merasa betah dan nyaman di tempat ini. Apa mungkin karena ada pria baik dan ramah disini. Entahlah !
“hendri makan yuk!” ajakku
“ayuk” jawab hendri
“kamu mau makan apa?” tanyaku
“aku sih gimana kamu aja” sahut hendri
“kita makan nasi goreng aja yuk” ajakku
“ok” jawab hendri dengan singkat
Hendri berdiri dan aku juga berdiri dengan tas tanganku yang lumayan berat. Melihatku  membawa tas, tanpa basa-basi hendri membantu dan membawa tasku. Melihat kebaikan dan perhatiannya, hati ini mulai merasa sesuatu yang aneh,hati ini mulai tak menentu. Entah rasa apa ini, apa mungkin ini yang namanya cinta. Bisa jadi, kayaknya.
                Mentari sudah tertidur tinggal rembulan yang menyinari. Namun, bis belum juga selesai diperbaiki. Aku mengambil dan melihat dompet disakuku yang isinya hanya Rp.100.000;-. Melihat isi dompetku, aku mulai  khawatir dan harus bagaimana kalau bisnya belum juga selesai diperbaiki. Aku mengambil handpond dan mengubungi ayahku.
“assalamualaikum” sapaku
“Walaikumsalam, sekarang udah sampai mana chik?” sahut ayah
“ di Lampung yah, bisnya rusak dari tadi pagi dan sampai sekarang belum selesai diperbaiki.” Jawabku
“terus kapan selesai diperbaikinya ?” tanya aya dengan suara khawatir
“gak tau yah. Yah,uang Chika tinggal Rp.100.00;- yah. Chika takut bisnya gak bisa diperbaiki” kataku dengan rasa was-was.
“udah kamu tenang aja dulu. Hpnya kasih kesupir ? ayah mau bicara”
“ada yah. Ini”
Aku mengulurkan handphonku ke supir dan mereka terlihat berbicara sangat serius. Selesai mengobrol supir itu mengembalikan handphoneku.
“Mbak, karena butuh waktu lama untuk memperbaiki bisnya. Katanya kamu  harus pulang kembali ke rumah ayahmu dan kami akan mencarikan bis untukmu”kata supir itu
Aku menarik napas dan berusaha menerima keputusan itu walaupun ku tak mau.
“hei” kata hendri sambil mengagetkan
“apa” jawabku dengan singkat
“aku mau bilang kalau aku mau melanjutkan perjalananku.” Sahut hendri
“maksudnya” tanyaku
“kayaknya bis kita masih lama diperbaikinya, aku mau nyari bis lain aja” jelas Hendri
                Mendengar kata-katanya aku langsung terdiam. Setelah seharian bersama, canda tawa dan kini saatnya kami berpisah. Tapi apa boleh buat, kami hanya kebetulan bertemu di bis lalu berkenalan dan mungkin ini hanyalah pertemuan singkat.
* **
                Tepat pada jam 10 malam setelah sekian lama menunggu bis. Akhirnya, bis yang menuju Jambi tiba juga. Bis itu berhenti didepanku, ingin rasanya aku menangis. Tapi, aku sadar aku bukan siapa-siapa Hendri ,kami hanyalah teman baru. Penumpang berbondong-bondong menaiki bis itu namun, hanya beberapa orang yang tertampung oleh bis itu. Bis itu berjalan,hatiku mulai sepi, rasanya ingin menangis tapi tak berani, ingin teriak tapi malu.
“hey jangan melamun terus” mengagetkanku
Aku heran dan sejenak terdiam, “sepertinya aku mengenal suara ini, tapi suara siapa ?,  iya... ini suara Hendri tapi, apa mungkin dia kan sudah naik bis yang tadi” kataku dalam hati. Aku menoleh dan mencari sumber suara itu ternyata benar, itu suara Hendri.
“kenapa bengong” tanya Hendri
“aku gak papa, aku cuma heran aja, koq kamu masih disini” kataku dengan muka heran
“kenapa mesti heran ? harusnya kamu senang donk aku masih disini” kata hendri dengan manis
“ahh, biasa aja” kataku dengan jaim
“aku sengaja gak jadi naik karena, aku tau kamu disini gak ada temannya.” Jelas Hendri
                Mendengar penjelasannya, hatiku berbunga-bunga kembali dan rasa yang aneh itu timbul kembali. Tapi, tak lama ku merasa bahagia kini tiba saatnya aku yang harus pergi karena, bis yang kutunggu kini telah tiba. Hendri bangun dan membantu membawakan barang-barangku. Dan inilah kata terakhir yang terucap dari bibir manis pria itu
 “hati-hati dan jaga kesehatan, semoga entar kita bisa bertemu kembali”
                Bis pun melaju dan menjahuhi hendri seakan membawa seribu harapan yang menbawa pertemuan dan seribu kenangan yang tak pernah terlupakan.
 

Sebenarnya ini tugas gak kepaksa-kepaksa juga sih, soalnya ini cerita perjalanan saya. perjalanan langka.