SEKEDIP
MENTARI YANG TAK TERLUPAKAN
Ditengah puluhan orang dalam
sebuah bis antar lintas sumatra (ALS) tujuan Bekasi. Seorang wanita terlihat
bosan ditempat duduknya. Dan tampak sedang menunggu hiburan datang
menghampirinya, agar ia dapat tersenyum dengan senyumannya yang manis. Tak lain
wanita itu adalah aku Chika. Aku berdiri dan berjalan kecil diantara para
penumpang berharap rasa bosanku sedikit demi sedikit hilang. Aku melangkah
kearah supir bis dan kembali melangkah menuju bangku panjang yang bersebelahan
dengan kondektur bis. Aku pun duduk kembali dengan muka yang kurang gairah.
“mbak kenapa ? keliatannya bete bangat ?” tanya seorang
pria yang duduk di sampingku
“iya mas aku bosan duduk terus, aku pengen cepat-cepat
sampai” jawabku
“emang mbak tujuannya kemana ?” tanya pria itu lagi
“jakarta” jawabku dengan singkat
“masih jauh mbak, mbak yang sabar ya, keep smile!” kata
pria itu dengan senyum manis
aku memandang dan memperhatikan
pria itu, “pria yang manis, keren, dan putih lagi” kataku dalam hati.
“mbak nama mbak siapa ?” tanya pria itu
“chika”, jawabku dengan kaget
“mbak dari mana mbak”, tanya pria itu lagi
“aku dari kampung ayahku mas, MADINA (Mandailing Natal).
Oh iya mas, ngomong-ngomong nama mas siapa? “, tanyaku balik
“hhhmm.. panggil aja Hendri”, sahut pria itu
“Mas tujuannya kemana” tanyaku
“ aku mau ke Jambi mbak” sahut pria itu
Aku dan Hendri terus mengobrol.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi dimana penumpang bis waktunya
sarapan. Supir bis memarkirkan bisnya tepat didepan sebuah rumah makan yang begitu
besar yaitu tepatnya di Lampung.
***
Setelah semua selesai sarapan ,
penumpang bersiap untuk melanjutkan perjalanan kembali. Tetapi ada sesuatu yang
terjadi. Bis yang aku naiki mengalami kerusakan dan kemungkinan akan selesai
diperbaiki pada jam 04.00 sore. Aku bingung dan memandang wajah penumpang yang
tak girang yang melukiskan seribu kecewa , seperti aku. Tapi, apa boleh buat ?
aku hanya bisa menarik napas dalam-dalam.
Aku diam dan duduk di bangku bis
yang belum juga selesai diperbaiki. Memandang dan memperhatikan suasana sekitar
rumah makan. Tiba-tiba pandanganku teralihkan, melihat hendri sedang duduk
manis di bawah pohon rindang sambil memperhatikan kendaraaan yang melintas
“hei melamun terus “ kataku sambil mengagetkan
“siapa yang melamun ?” jawab hendri
“terus kalau gak
melamun namanya apa mas brow ?” tanyaku balik
“aku hanya bingung harus ngapain, dan bagaimana kalau nanti bisnya gak
selesai-selesai diperbaiki” kata henri dengan muka bingung
“sama mas, tapi bagaimana lagi. Kita berdoanya aja agar
bisnya cepat selesai diperbaiki dan kita bisa melanjutkan perjalanan kembali”
jawabku
Kami saling bertukar cerita dan
sesekali diselingi canda tawa. Kami terlihat sangat akrab seperti yang sudah
kenal lama. Sampai ada yang bilang kami adik kakak dan ada juga yang bilang
kami pacaran. Aku kaget mendengar pendapat mereka, sampai mukaku merah kaya
udang kepanasan.
Di tengah candaan kami terdengar
suara musik yang semakin lama semakin mendekat, yang tak lain itu adalah suara
musik penjual es krim. Dia berhenti tepat dihapanku dan hendri. Penumpang menyambutnya dengan riang, mereka membeli es krim
untuk menghilangkan rasa bosan mereka yang semakin tinggi.
“chika, kamu mau beli es krim gak?” tanya hendri
“mau tapi gak mau antrinya. Hehe” jawabku
“ya udah, kita nanti aja belinya, kalau udah gak antri”
sahut hendri
“ok “ jawabku
Setelah terlihat sepi dan semua
terlihat sibuk dengan es krimnya. Hendri bangun dari tempat duduknya dan
membeli es krim tanpa mengajakku. Hendri membeli dua es krim rasa coklat.
“chika, ini buat kamu” kata hendri sambil mengulurkan es
krimnya
“makasih hendri. Aku bayar berapa nih ?” sahutku
“udah makan dulu aja” kata hendri
“ah gak mau ah, berapa dulu?” tanyaku
“udah itu buat kamu aja, gak usah bayar” kata hendri
dengan muka manis
“gak bisa gitu downk. Ini ?” kataku sambil mengulurkan
uang
Dengan muka ikhlas Hendri tidak
mau menerima uangku, malah menyuruhku untuk menikmati es krimnya. Dengan rasa
malu tapi mau, aku menyantap dan menikmati kelezatan es krimnya.
* * *
Mentari mulai menghilang, tapi
bis belum juga selesai diperbaiki. Semua orang terlihat kesal. Tapi, entah
kenapa aku merasa biasa saja, malah merasa betah dan nyaman di tempat ini. Apa
mungkin karena ada pria baik dan ramah disini. Entahlah !
“hendri makan yuk!” ajakku
“ayuk” jawab hendri
“kamu mau makan apa?” tanyaku
“aku sih gimana kamu aja” sahut hendri
“kita makan nasi goreng aja yuk” ajakku
“ok” jawab hendri dengan singkat
Hendri berdiri dan aku juga
berdiri dengan tas tanganku yang lumayan berat. Melihatku membawa tas, tanpa basa-basi hendri membantu dan
membawa tasku. Melihat kebaikan dan perhatiannya, hati ini mulai merasa sesuatu
yang aneh,hati ini mulai tak menentu. Entah rasa apa ini, apa mungkin ini yang
namanya cinta. Bisa jadi, kayaknya.
Mentari
sudah tertidur tinggal rembulan yang menyinari. Namun, bis belum juga selesai
diperbaiki. Aku mengambil dan melihat dompet disakuku yang isinya hanya
Rp.100.000;-. Melihat isi dompetku, aku mulai
khawatir dan harus bagaimana kalau bisnya belum juga selesai diperbaiki.
Aku mengambil handpond dan mengubungi ayahku.
“assalamualaikum” sapaku
“Walaikumsalam, sekarang udah sampai mana chik?” sahut
ayah
“ di Lampung yah, bisnya rusak dari tadi pagi dan sampai
sekarang belum selesai diperbaiki.” Jawabku
“terus kapan selesai diperbaikinya ?” tanya aya dengan
suara khawatir
“gak tau yah. Yah,uang Chika tinggal Rp.100.00;- yah.
Chika takut bisnya gak bisa diperbaiki” kataku dengan rasa was-was.
“udah kamu tenang aja dulu. Hpnya kasih kesupir ? ayah
mau bicara”
“ada yah. Ini”
Aku mengulurkan handphonku ke supir dan mereka terlihat
berbicara sangat serius. Selesai mengobrol supir itu mengembalikan handphoneku.
“Mbak, karena butuh waktu lama untuk memperbaiki bisnya.
Katanya kamu harus pulang kembali ke rumah
ayahmu dan kami akan mencarikan bis untukmu”kata supir itu
Aku menarik napas dan berusaha menerima keputusan itu
walaupun ku tak mau.
“hei” kata hendri sambil mengagetkan
“apa” jawabku dengan singkat
“aku mau bilang kalau aku mau melanjutkan perjalananku.”
Sahut hendri
“maksudnya” tanyaku
“kayaknya bis kita masih lama diperbaikinya, aku mau
nyari bis lain aja” jelas Hendri
Mendengar
kata-katanya aku langsung terdiam. Setelah seharian bersama, canda tawa dan
kini saatnya kami berpisah. Tapi apa boleh buat, kami hanya kebetulan bertemu
di bis lalu berkenalan dan mungkin ini hanyalah pertemuan singkat.
* **
Tepat
pada jam 10 malam setelah sekian lama menunggu bis. Akhirnya, bis yang menuju
Jambi tiba juga. Bis itu berhenti didepanku, ingin rasanya aku menangis. Tapi,
aku sadar aku bukan siapa-siapa Hendri ,kami hanyalah teman baru. Penumpang
berbondong-bondong menaiki bis itu namun, hanya beberapa orang yang tertampung
oleh bis itu. Bis itu berjalan,hatiku mulai sepi, rasanya ingin menangis tapi
tak berani, ingin teriak tapi malu.
“hey jangan melamun terus” mengagetkanku
Aku heran dan sejenak terdiam, “sepertinya aku mengenal
suara ini, tapi suara siapa ?, iya...
ini suara Hendri tapi, apa mungkin dia kan sudah naik bis yang tadi” kataku
dalam hati. Aku menoleh dan mencari sumber suara itu ternyata benar, itu suara
Hendri.
“kenapa bengong” tanya Hendri
“aku gak papa, aku cuma heran aja, koq kamu masih disini”
kataku dengan muka heran
“kenapa mesti heran ? harusnya kamu senang donk aku masih
disini” kata hendri dengan manis
“ahh, biasa aja” kataku dengan jaim
“aku sengaja gak jadi naik karena, aku tau kamu disini
gak ada temannya.” Jelas Hendri
Mendengar
penjelasannya, hatiku berbunga-bunga kembali dan rasa yang aneh itu timbul
kembali. Tapi, tak lama ku merasa bahagia kini tiba saatnya aku yang harus
pergi karena, bis yang kutunggu kini telah tiba. Hendri bangun dan membantu
membawakan barang-barangku. Dan inilah kata terakhir yang terucap dari bibir
manis pria itu
“hati-hati dan
jaga kesehatan, semoga entar kita bisa bertemu kembali”
Bis pun
melaju dan menjahuhi hendri seakan membawa seribu harapan yang menbawa
pertemuan dan seribu kenangan yang tak pernah terlupakan.
Sebenarnya ini tugas gak kepaksa-kepaksa juga sih, soalnya ini cerita perjalanan saya. perjalanan langka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar